Komunitas: Tempat Latihan “Otot Emosi” & Wadah Bersaksi

Di tahun terakhir kuliah saya di NUS dulu, ada satu kejadian yang sulit terlupakan. Pada saat itu saya baru saja menyelesaikan poster presentation FYP (Final Year Project) saya, dan PhD student yang selama 8 bulan sebelumnya diminta oleh professor/supervisor FYP saya untuk membantu saya dalam proyek tersebut datang berkunjung bersama seorang temannya untuk melihat poster yang telah saya buat. Mereka berdua pria, dan adalah orang India. Tak lama setelah saya menjelaskan sedikit tentang poster tersebut, PhD student ini lalu tiba-tiba menggaet kelingking tangan saya dengan kelingking tangannya, sambil terus mengajak kami berbincang-bincang dan bercanda-tawa. Pembicaraan terus berlangsung selama 5-10 menit, dan selama itu pula kelingking tangan saya terus “bergandengan” dengan kelingkingnya. Meski saya sangat amat terkaget-kaget (dan juga tentunya merasa sangat tidak nyaman), saya berusaha tidak menunjukkan kekagetan dan ketidaknyamanan saya ini di depannya.1

Hal ini lalu membuat saya berpikir. Orang-orang India pada umumnya dikenal sangat karib dengan satu sama lain, dan memiliki kehidupan berkomunitas yang sangat erat dan penuh kekeluargaan. Memang tidak jarang dua atau lebih pria India yang tidak memiliki ketertarikan seksual sesama jenis yang mengekspresikan keakraban dan persaudaraan mereka dengan bergandengan tangan ketika berjalan.

Lalu apakah kita orang-orang percaya yang memiliki dasar persaudaraan yang lebih esensial dan kuat (di dalam Kristus) juga memiliki kekariban yang sama atau bahkan lebih dari mereka?2

Pada awal tahun 2015 yang lalu, visi pelayanan FES IM, yang diawali dengan kalimat, 

“Menumbuhkembangkan pemimpin-pemimpin yang menyerupai Kristus…”,

diselaraskan dengan visi pelayanan FES Chinese Work (CW) dan English Section (ES), dan alhasil terwujudlah visi FES Singapore secara keseluruhan, yang diawali dengan kalimat, 

“Our vision is to see a community of Christlike leaders…”

Tambahan satu kata dalam sebuah artikel/tulisan yang panjang mungkin tidak banyak mengubah tulisan tersebut. Tetapi satu kata tambahan dalam pengkalimatan visi, yang hanya terdiri dari satu kalimat ini, mungkin akan berdampak besar. Paling tidak dengan revisi pengkalimatan visi ini, menjadi jelas bahwa yang menjadi goal pelayanan FES IM bukanlah hanya individu-individu yang serupa seperti Kristus (dan berimpact kepada lingkungannya), akan tetapi juga komunitas yang terdiri dari individu-individu yang demikian. Komunitas bukanlah semata-mata means (alat) untuk membentuk individu-individu yang serupa Kristus. FES IM dipanggil Tuhan untuk membentuk komunitas-komunitas tersebut. 

Mengapa komunitas orang percaya itu penting?

1. Karena tanpa komunitas yang Alkitabiah, kita tak mungkin bisa memiliki kesalehan yang sejati (baca: true godliness) dan tak mungkin bisa makin menyerupai Kristus.

Relasi dengan Tuhan adalah relasi yang terpenting di dalam hidup kita. Itulah sebabnya dikatakan di Matius 22:34-40 bahwa mengasihi Tuhan dengan keseluruhan diri kita adalah hukum yang terutama dan yang pertama (ayat 38). Oleh karena itu teramatlah penting bagi kita untuk melatih otot spiritual kita (dengan berdoa, merenungkan Alkitab, dll) agar kita bisa menjaga relasi yang baik dengan Tuhan.3

Akan tetapi, Yesus sendiri mengatakan di dalam perikop tersebut di atas bahwa ada hukum terutama yang kedua, “yang sama dengan” hukum pertama di atas, yakni mengasihi sesama seperti diri sendiri (ayat 39). Oleh karena itu, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama adalah seperti dua sisi dari koin yang sama, dan melatih kesalehan yang sejati berarti melatih diri untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan lebih dan lebih lagi.4  Jikalau otot spiritual bisa kita latih secara pribadi di tempat kita masing-masing, otot emosi/afeksi kita hanya mungkin bisa dilatih dengan hidup berkomunitas. Bukankah ini mengapa Alkitab berulang kali mengatakan agar kita tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibrani 10), agar kita “bear one another’s burdens” (Galatia 6), agar kita saling menasihati seorang akan yang lain setiap hari (Ibrani 3), dan agar kita “ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni” (Efesus 4)? Tanpa latihan otot emosi/afeksi yang konsisten, kita akan sulit mengasihi sesama kita, dan karena itu sulit memiliki kesalehan yang sejati dan sulit untuk makin menyerupai Kristus (meski mungkin kita terus melatih otot spiritual kita).

2. Karena zaman berubah, dan semakin hari semakin banyak anak muda yang baru akan mempertimbangkan iman kepada Yesus Kristus jikalau mereka sudah terlebih dahulu menyaksikan dan mengalami sendiri keunikan komunitas murid Kristus.

Generasi muda zaman ini sering disebut sebagai the millennials and the postmodern. Dan generasi ini adalah generasi yang jauh lebih mengutamakan dan menginginkan komunitas dan pengalaman (experiences) dibanding generasi sebelumnya yang lebih menekankan dan menghargai individualitas dan rasionalitas.5 Apakah dengan demikian kita tidak lagi menekankan pengajaran kebenaran? Tentunya tidak demikian. Pembaharuan akal budi (transformation of mind) seperti yang tertulis dalam Roma 12:2 selalu ada tempatnya. Akan tetapi, kesaksian komunitas semakin lama semakin tak bisa dikesampingkan, dan malah sebaliknya semakin harus kita perhatikan. Kebersediaan menegur dan ditegur dalam kebenaran dan kasih, misalnya, adalah salah satu keunikan komunitas Kristen yang bisa sangat appealing (menarik) bagi anak muda zaman ini yang sangat menghargai autenthicity (keotentikan). Dan bukankah ini salah satu contoh habit yang “kontroversial” yang mengubahkan dunia?6 Adakah kita terbiasa melatih otot emosi/afeksi kita dengan habit menegur dan bersedia ditegur di dalam komunitas? “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi,” kata Yesus (Yohanes 13:35).

 

Note:
Sejauh saya mengamati, saya cukup yakin bahwa dia menggandeng kelingking saya ini sebagai ekspresi kedekatan dan tidak lebih dari itu.
Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa kekariban antar orang percaya bisa dilihat dari apakah mereka bisa sampai bergandengan tangan ketika berjalan bersama. Bergandengan tangan dengan teman tentunya adalah bagian dari kebudayaan masyarakat India, yang bukanlah bagian dari kebudayaan kita, dan karena itu tidak perlu kita tiru.
Pembahasan mengenai pentingnya melatih otot spiritual kita bisa dilihat di artikel “Melatih Kesalehan” oleh Victor Wibowo di PISTOS edisi Februari 2017.
Banyak sekali bagian Alkitab yang menyatakan bahwa relasi dengan Tuhan dan relasi dengan sesama tidak dapat dipisahkan. We cannot truly have a loving relationship with one without the other. Lihat, misalnya, 1 Yohanes 4:20, Matius 5:23-24, Yakobus 1:26-27, Yohanes 15:12-13, dst.
Diambil dari pembahasan tentang ciri-ciri “millennial-postmodern” youth yang dibagikan oleh Annette Arulrajah dalam FES Singapore Staff Conversations bulan September 2012.
6 Pembahasan tentang habit yang “kontroversial” yang mengubah dunia dapat dilihat di artikel “Changing Habits, Changing The World” oleh Darryl Andriyan Putra di PISTOS edisi Agustus 2017.

 

Written by Adrian Nugroho, FES staffworker for Pistos February 2018 (Indonesian Ministry newsletter)

Tags:


X