Sudah, Kini, dan Lagi: Refleksi Tiga Babak

Prologue:
Indonesian Students’ Christian Fellowship (ISCF) dimulai di NTU pada bulan Agustus 1998 sedangkan Indonesian Ministry (IM, sebagai bagian dari FES Singapore) lahir secara resmi pada bulan Januari 2003. Jadi, ISCF berusia 20 tahun dan IM berusia 15 tahun. Liputan khusus tentang IM Family Day, sebagai perwujudan ucapan syukur dan ajang persekutuan mahasiswa dan alumni dua dekade terakhir, ada di sini

Di bagian ini, ijinkan kami membagikan refleksi pelayanan IM dalam tiga babak:

Babak I: Dua Puluh Tahun Sudah – Refleksi dalam Angka
Jikalau kami memberanikan diri mereduksi pelayanan IM menjadi angka, sebagai gambaran penyertaan dan pekerjaan Tuhan selama ini, mungkin ini kira-kira statistiknya:

1,532 mahasiswa yang telah dijangkau/dilayani
1,021 mahasiswa yang pernah ikut KTB/kelompok kecil/PIPA
725 mahasiswa melayani sebagai ex-co/sub-com/pengurus
568 persekutuan umum/doa telah diadakan
327 KTB telah dibentuk dan berjalan
95 Camp telah diadakan
60 mahasiswa pertama kali mengenal/percaya Yesus melalui ISCF
15 staff telah bekerja melayani ISCF/IM
13 kampus telah dilayani
1 visi yang terus diperjuangkan

Pertanyaannya: sudah cukupkah? Masih adakah yang terabaikan? Puaskah kita? Puaskah Allah kita? Teman2, cobalah, tuliskan sesuatu (boleh di FB, Insta, email kepada kami, atau berbagai media lain), dan berbagi cerita, apa dan bagaimana Tuhan bekerja selama masa mahasiswa kalian di ISCF. Bantu kami untuk mengerti dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas

Babak II: Dua Puluh Tahun Kini – Refleksi dalam Cerita
Pelayanan mahasiswa penuh cita dan cerita. Bukan hanya karena mahasiswa masih muda, tapi ini juga masa dimana hidup mereka sedang dimuati banyak makna.

Di bawah ini beberapa sketsa percakapan dan pergumulan yang kami, para staff IM di lapangan, masih sering temukan sampai sekarang (dua yang terakhir mungkin lebih menyentuh kehidupan alumni)

  • “Bagaimana gua bisa tahu pasti bahwa Yesuslah satu2nya yang bisa menyelamatkan gua?”
  • “Rasanya sakit sekali. Bagaimana mungkin seorang Kristen berkata2 menghina saya seperti itu? Kalau dia tidak mau minta maaf, jangan harap saya mau melayani lagi, apalagi bareng sama dia.”
  • “Ci, kemarin ada teman bertanya apakah kita menyembah 3 ‘allah’. Bagaimana kita bisa menjelaskan Allah Tritunggal kepada dia yah?”
  • “Ko, bagaimana aku bisa menang melawan kebiasaan burukku ini? Aku tahu ini tidak benar, tapi sulit sekali rasanya melepaskan diri.”
  • “Nanti setelah lulus, gua masih gak tau mau jadi apa dan kerja dimana. Kasi tau dong gimana gua bisa tau apa yang Tuhan panggil saya.”
  • “Ci, kemarin si dia ada ‘nembak’ nih, nanyain apakah aku mau doa bareng, buat hubungan aku dengan secara lebih serius. Aku terus terang bingung sekarang.”
  • “Apa yah hubungan Laplace Equation dengan iman Kristen?”
  • “Saya lagi gak mau keluar kamar. Malas ketemu orang. Lagi galau dan rasanya gak ada lagi harapan hidup ke depan. Belajar juga gak bisa konsentrasi. Sia-sia rasanya hidup ini.”
  • “Mengapa tidak cukup kita aktif dan pelayanan di gereja kita masing2 saja? Buat apa harus ada pelayanan mahasiswa di kampus? Bikin sulit saja, apalagi para mahasiswa datang dari berbagai macam gereja, bagaimana menyatukannya? Pasti, nanti ujung2nya kompromi kebenaran.”
  • “Ko, bagaimana meyakinkan visi ‘students today, leaders tomorrow’ kepada adik2 mahasiswa baru, supaya mereka menangkap visi dan berjuang, bertumbuh, dan bersaksi di kampus?”
  • “Sehabis pulang kerja, rasanya capek sekali. Sudah malas buat kerjakan apapun. Sudah lama juga gua gak saat teduh dan berdoa. Ke gereja tiap hari Minggu, rasanya seperti menyeret2 kaki.”
  • “Apakah pekerjaan saya ada artinya, ko? Tiap hari melakukan tugas dan tanggung jawab yang berulang-ulang. Apa artinya menjadi garam dan terang di dunia kerja kalau begini terus?”

Tantangannya adalah, apakah kelanjutan cerita dan percakapan di atas masih diisi dengan keteguhan kami memegang Injil Tuhan kita, Yesus Kristus; panjang sabar dalam menolong para mahasiswa hidup sesuai dengan Injil; dan kesetian untuk memampukan para alumni untuk setia pada panggilan Injil? Kami sangat merindukan Tuhan, Sang Empunya pelayanan menjawab iya.

Jikalau teman-teman bisa dengan yakin berkata “Iya dan Amin” untuk pertanyaan di atas, tolong bagikan cerita-cerita kalian juga, selama dulu kalian jadi mahasiswa ataupun sekarang sebagai alumni. Biar kami melihat dari kacamata kalian dan dikuatkan bahwa Tuhan masih terus bekerja sampai kini.

Babak III: Dua Puluh Tahun Lagi – Refleksi dalam Asa
Ada satu cerita dari buku karangan John Duckworth “Joan ‘n’ the Whale: And Other Stories You Never Heard in Sunday School”. Ini kisah ulang secara ringkas, berdasarkan tuturan Bp Robert Solomon dalam salah satu seminarnya.

Seorang membangun rumahnya di atas batu karang dan setelah selesai, ia bersyukur buat kebijaksanaan yang dimilikinya. Ia menantikan hujan turun dan angin datang, dengan mengetahui bahwa rumah tetangganya yang dibangun di atas pasir pasti akan roboh dan hancur. Akan tetapi, banjir dan badai tak kunjung tiba.

Tiba-tiba, ia mendengar suara menggelegar di luar. Pikirnya, tibalah hari yang dinantikan. Dengan semangat ia melihat keluar jendela hanya untuk menyadari bahwa tetangganya sedang memugar rumahnya menjadi rumah peristirahatan mewah tepi pantai.

Suatu hari hujan akhirnya datang. Tapi, ternyata hujan hanya jatuh ke rumah yang dibangun di atas batu karang. Sang pemilik rumah, sambil mengerang dalam kekecewaan, terus menerus disibukkan memperbaiki genteng yang bocor, membersihkan saluran air yang tersumbat, dan membuang keluar air yang masuk menggenang di dalam rumah. Sementara itu, sang tetangga yang membangun rumahnya di atas pasir terlihat semakin bahagia, kaya, dan sejahtera. Rumah mewahnya tidak terusik hujan dan angin sama sekali.

Pada akhirnya, ia yang membangun rumahnya di atas batu karang berkata kepada dirinya sendiri: “Orang bodoh pun bisa melihat bahwa banjir dan badai tak akan pernah melanda.” Ia pun mengemasi barang-barang kepunyaannya, keluar dari rumahnya, pergi ke rumah mewah tepi pantai milik tetangganya, dan tinggal di sana.

Malam itu, turunlah hujan dan datanglah banjir serta angin melanda kedua rumah itu. Tentu saja, rubuhlah rumah yang dibangun di atas pasir itu dan hebatlah kerusakannya.

Rumah yang satu lagi tidak rubuh, karena ia dibangun di atas batu karang. Sayangnya, tidak ada orang yang tinggal di dalam rumah itu!

Cerita ini menohok nurani saya. Pertanyaannya adalah bukan hanya apakah kita sekarang membangun rumah di atas batu karang, tapi juga apakah kita akan terus tinggal di dalamnya.

Sama halnya dengan ISCF/IM. Selain bertanya apakah ISCF/IM sekarang membangun ‘rumah pelayanannya’ di atas batu karang, juga penting untuk memastikan apakah ISCF/IM masih tetap akan tinggal di dalam ‘rumah’ tersebut 10, 20, 30, atau 40 tahun ke depan?

Epilogue:
Masihkah kita bisa tetap mencetak angka, merangkai cerita, dan menguntai asa? Menatap harap kepada adik-adik mahasiswa dan para alumni masa lalu, dan juga masa depan, untuk terus tinggal di dalam “rumah yang dibangun di atas batu karang”.

 

Written by
Lisman Komaladi
FES General Secretary

Tags:
No Comments

Post A Comment

X